Sepi

Kamu tau sepi?

Empat kata namun maknanya beribu

Sangat indah karena aku lah pemiliknya

Menyeramkan bagimu yang tak mengerti

Sepi,..

Setiap hari bahkan setiap waktu

Kalau aku memikirkannya

Senyum yang ku ukir di wajah ku

Sahabat yang paling setia bukanlah teman

Sahabat sejati bukan teman

Sahabat sehidup semati bukan juga teman

Sahabat itu sepi

Sangat indah bila ku pikir

Tak  dapat hal yang ku lakukan

Sepi indah pada waktunya

Menyibak hari-hari suram

Sepi melanda siap aku terima

Kau hadir dan aku cinta

Temani aku dalam kesendirian

Karena sepi itu hidupku

Sesat atau Sedap?

Apa pentingnya sekarang??

Tatkala orang mementingkan uang untuk selalu senang, 

Berambisi selalu dipuja walau dirinya adalah hina,

Meraih tingginya harga walau dirinya adalah rendah,

Ini jaman setan dimana edan adalah mainan, mainan untuk semua kalangan,

Sekarang apa yang dilakukan?

Diri ini juga tak tahan melihat kesesatan tapi terasa sangat ingin dilakukan,

Begitulah gambaran sekarang, yang sesat adalah yang enak,

Munafik atau tidak begitulah dayanya, walau menolak hati tak kan bisa berkata TIDAK!

Hurt

Aku ingin sekali berujung pilu dengan lugasnya sendu, menilik setiap roma dari remahnya rindu

Jujur tak hingga dengan apa yang bisa teruji, klimaksnya hanya perlu dinanti dan itu sebagai tanda pesan dari sana

Kali ini menanti sangat perih walau tak kan sendiri hingga sesal berujung sedih, tapi jangan kau tanya? Karena tuhan tau segalanya

Salamku untuk “Dunia”

Hanya malam ini terasa begitu menggoda pikiran yang telah kaku, menggelitik sedikit naluri di atas kanvas hanya untuk menari-nari

Rasa ini tak dapat disanggah walau dicoba untuk mendesah,  biarkan ego dari dada menggeliat sedetik saja,

Harus diakui angan tak begitu indah jika dibandingkan perspektif secara logis tak akan terpenuhi, namun alibi sering berkias menghibur sekali-kali,

Dan pelukan angin begitu mengundang hasrat akan daku, menjerit diantara kepulan rindu,

Salamku untuk dunia, rindu dunia yang lalu, damai tanpa seorang manusia peranakan binatang yang berlalu-lalu,

Salamku untuk dunia, jagalah rinduku sebelum berlalu termakan kekejaman waktu dengan babu-babu yang ambisius terhadap kamu,

Tautologi

Entah dalam persepsi kehidupan tak mengenal arti dari nilai sebuah kebenaran,

Bahkan kontradiksi dari sebuah kekeliruan adalah kebenaran yang tertunda,

Hingga tak dapat dibedakan mana invers dan konvers, cuman setitik garis real yang menentukan himpunan,

Rasanya begitu menggoda logika, dari sekian imajiner yang terbentuk dan tercipta, menguapkan perspektif dari sekian ego yang tersedia,

Dan AKU harus APA???

Mengais tiap debu yang kian mengudara dari fananya malam, menggelitik seujung lirih pada penatnya kehidupan,

Pada akhirnya, menyerah pada tautologi adalah efisiensi sebuah pengharapan, dengan menurunkan pencitraan di kehidupan, kemudian… SEMOGA 

Narcissus

” ALKEMIS ITU MENGAMBIL BUKU YANG DIBAWA SESEORANG DALAM karavan.

Membuka-buka halamannya, dia menemukan sebuah kisah tentang Narcissus.

Alkemis itu sudah tahu legenda Narcissus, seorang muda yang setiap hari berlutut di dekat sebuah danau untuk mengagumi keindahannya sendiri.
Ia begitu terpesona oleh dirinya hingga, suatu pagi, ia jatuh kedalam danau itu dan tenggelam.

Di titik tempat jatuhnya itu, tumbuh sekuntum bunga, yang dinamakan narcissus.
Tapi bukan dengan itu pengarang mengakhiri ceritanya.

Dia menyatakan bahwa ketika Narcissus mati, dewi-dewi hutan muncul dan mendapati danau tadi, yang semula berupa air segar, telah berubah menjadi danau airmata yang asin. “Mengapa engkau menangis?” tanya dewi-dewi itu.
“Aku menangisi Narcissus,” jawab danau.
“Oh, tak heranlah jika kau menangisi Narcissus,” kata mereka,
“sebab walau kami selalu mencari dia di hutan, hanya kau saja yang dapat mengagumi keindahannya dari dekat.”
“Tapi… indahkah Narcissus?” tanya danau.
“Siapa yang lebih mengetahuinya daripada engkau?” dewi-dewi bertanya heran.
“Di dekatmulah ia tiap hari berlutut mengagumi dirinya!” Danau terdiam beberapa saat.

Akhirnya, ia berkata: “Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kuperhatikan bahwa Narcissus itu indah.
Aku menangis karena, setiap ia berlutut di dekat tepianku, aku bisa melihat, di kedalaman matanya, pantulan keindahanku sendiri.”

“Kisah yang sungguh memikat,” pikir sang alkemis. ”

Dikutip novel “Sang Alkemis” by Paulo Coelho

 Delusi

Anggaplah elok dari ketidakyakinan merupakan sebuah haluan,

Berdiri tegap walau pelik berdetak, menengahi kelak mengalahi arah juang,

Jumpa dalam iba sedikit resah diam dengan kata indah, namun hanya membisu babu,

Setia setiap melanda parahnya gelisah tak bisa apa, hingga jingga lalu pergi membuka lelapnya malam,

Ijinkan imajiner menguasai dengan begitu delusi adalah surga terindah saat ini,

Pencarian Kota Hilang : Sodom dan Gomora

Kisah ini merupakan salah satu cerita tertua di dunia. Kisah dua kota yang namanya praktis besinonim dengan dosa, Sodom dan Gomora. Selama bertahun-tahun, cerita tentang apa yang menimpa mereka menjadi perumpamaan tentang degradasi moral yang harus dibayar dengan harga mahal.

Mungkin penggambaran mengenai kehidupan manusia di dua kota ini sangat relevan dewasa ini, dimana manusia telah melakukan berbagai tindakan yang sangat jauh dengan hakekat mereka sebagai makhluk ciptaan, bobroknya moral, seakan-akan mereka tidak memiliki batasan dalam perbuatan. Dimana Perintah-perintah dari Sang Pencipta dan norma-norma dalam kehidupan bermaysarakat sudah seakan menjadi dongeng turun temurun yang hanya sebatas mereka dengar.

Sekitar 4000 tahun yang lalu, Sodom dan Gomora juga memiliki reputasi demikian. Walau Kitab suci tak pernah menyebutkan apa perbuatan mereka secara mendetil sehingga bisa bernasib seperti itu. Walaupun demikian, Kitab suci sangat jelas memberikan penggambaran mengenai hukuman yang mereka terima dari Sang Pencipta.

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS Huud ayat 82)

“Malaikat-malaikat tersebut menawarkan untuk menolong Lot, istrinya dan kedua anak perempuannya untuk melarikan diri dari penghancuran Sodom dan Gomora, dengan syarat bahwa mereka tidak boleh menoleh ke belakang. Istri Lot mengabaikan perintah ini dan berubah menjadi tiang garam. Lot dan kedua anak perempuannya lolos ke bukit-bukit” (Kejadian 19:15-28)

Jika cerita mengenai Sodom dan Gomora memang terjadi seperti apa yang dikisahkan di dalam Al-Quran maupun Injil, maka sangat mungkin terjadi di suatu lahan kosong terpencil di sebelah lautan tanpa kehidupan. Tapi, dimanakah tempat itu?

Seperti yang kita ketahui, banyak tempat yang dikisahkan didalam kitab suci sulit untuk ditentukan dimana lokasi yang sebenarnya. Contohnya didalam Kitab Taurat yang membahas tentang lima kota lembah. Sampai saat ini kita hanya bisa berspekulasi bahwa kelima kota tersebut berada disekitar laut mati.

Cerita mengenai Sodom dan Gomora ini terjadi di zaman Abraham/Ibrahim a.s, berabad-abad sebelum Musa a.s keluar dari tanah Mesir. Abraham kepala suku nomaden yang menghindari kota-kota, mungkin itu sebabnya amat sedikit sekali yang kita ketahui. Diceritakan suku Abraham terus-menerus saling bertengkar mengenai padang rumput. Untuk menyelesaikannya, Abraham dan keponakannya Lot/Luth a.s setuju untuk berpisah. Dan Nabi Luth kemudian berdiam di Lembah dekat kota Sodom. Jadi kota Sodom seharusnya sudah cukup mapan saat Luth pindah ke sana. Apabila Kota Sodom itu merupakan pemukiman khas jaman perunggu, berarti setidaknya ada kurang lebih 1000 orang yang tinggal di balik dinding kota tersebut.

Tak ada yang menemukan petunjuk kota seperti itu pernah ada, sebab tak pernah ada orang yang sungguh-sungguh mencari-nya. Hingga pada tahun 1924, Ahli purbakala bernamaWilliam Albright berangkat menuju ke Laut Mati untuk melakukan penelitian disana. Beberapa orang yang bersamanya jelas mencari keberadaan sisa-sisa Sodom dan Gomora. Mereka mengitari pantai tenggara dari laut mati hingga mereka ahirnya tiba di sutus purbakala Bab-edh-dhra.
Bab-edh-dhra (dibaca : Babhedra), merupakan situs jaman perunggu, namun tak ada petunjuk jika situs itu meupakan suatu kota. Tampaknya daerah itu merupakan suatu daerah pemakaman. Namun Albright tak memiliki sumber daya untuk menggalinya.
Jadi hampir 50 tahun berlalu sebelum ada yang kembali ke situs tersebut untuk melakukan penggalian. Ahli Purbakala Paul Lapp memimpin penggalian di tahun 1967, dan Thomas Schaub termasuk salah satu penggalinya.

Bab-edh-dhra merupakan makam terbesar khas jaman perunggu yang mereka gali, panjangnya 15 meter dan lebarnya 7 meter. Disini mereka juga menemukan makam berisi perhiasan emas dan menggali lebih 700 tembikar yang merupakan hadiah penguburan termasuk tempat parfum kecil dan banyak benda lain seperti kain. Situs ini sungguh menakjubkan, makam ini telah digunakan selama 1000 tahun lamanya, dari zaman Ibrahim hingga penghancuran Sodom. Namun, tak ada apapun untuk mengaitkan pemakaman kuno itu dengan Sodom.

Misterinya, sekitar tahun 2350 SM, penguburan itu mendadak berhenti tak ada yang tahu mengapa. Ada sejumlah sebab mengapa suatu situs tak ditempati lagi, beberapa bisa disimpulkan, beberapa lagi tidak. Penyebab pada umumnya mungkin persediaan air mengering, lingkungan berubah, iklim berubah atau orang-orangnya dibasmi total.
Selama beberapa musim, ahli purbakala memperluas pencarian mereka untuk mencari tanda-tanda kota yang hilang. Tak lama kemudian mereka menemukan sesuatu, ada jejak kehidupan manusia di sisi bukit yang menghadap ke arah pemakaman. Banyak batu tersusun membentuk tembok yang mereka temukan disana, pecahan-pecahan tembikar dan sisa-sisa tanah liat yang sangat banyak. Itulah awal langkah mereka untuk mencari jejak Sodom dan Gomora seperti yang dikisahkan di dalam kitab suci.

Situs ini sungguh menakjubkan, makam ini telah digunakan selama 1000 tahun lamanya, dari zaman Ibrahim hingga penghancuran Sodom. Namun, tak ada apapun untuk mengaitkan pemakaman kuno itu dengan Sodom.

Misterinya, sekitar tahun 2350 SM, penguburan itu mendadak berhenti tak ada yang tahu mengapa. Ada sejumlah sebab mengapa suatu situs tak ditempati lagi, beberapa bisa disimpulkan, beberapa lagi tidak. Penyebab pada umumnya mungkin persediaan air mengering, lingkungan berubah, iklim berubah atau orang-orangnya dibasmi total.

Penelitian-penelitian arkeologi dan geologi yang telah dilakukan sejak tahun 1920-an di wilayah Laut Mati menemukan bahwa bekas-bekas kota Sodom dan Gomora paling mungkin terletak di tepi tenggara Laut Mati, yaitu dua kota yang di dalam arkeologi dikenal sebagai Bab edh-Dhra (Sodom) dan Numeira (Gomora).

Di kedua kota itu ditemukan banyak artefak dan rangka manusia yang menunjukkan bekas kejadian bencana pada sekitar tahun 2000 SM. Laut Mati merupakan pull-apart basin yang dibentuk oleh tarikan transtensional dua sesar mendatar mengiri (sinistral-transtensional duplex) Sesar Yudea dan Sesar Moab.

Sodom dan Gomora terletak di atas Sesar Moab. Laut Mati dicirikan oleh endapan elisional, kegempaan yang tinggi, fenomena diapir, gunung garam dan gunung lumpur, serta akumulasi hidrokarbon (aspal dan bitumen) dengan kadar belerang tinggi.

Pembinasaan Sodom dan Gomora diinterpretasikan terjadi melalui bencana geologi dengan urutan :
1. Pergerakan Sesar Moab
2. Gempa dengan magnitude 7,0+ yang menghancurkan kota-kota dan sekitarnya serta likuifaksi yang menenggelamkan sebagian wilayah kota-kota,
3. Erupsi gunung garam dan gunung lumpur yang meletuskan halit, anhidrit, batu-batuan, lumpur, aspal, bitumen, dan belerang,
4. Kebakaran kota-kota dan sekitarnya karena material hidrokarbon yang diletuskan terbakar sehingga menjadi hujan api dan belerang.

Bencana katastrofik ini telah meratakan Sodom dan Gomora dan menewaskan seluruh penduduknya kecuali Luth dan dua putrinya. Api dari langit yang menghujani Sodom dan Gomora bukan fenomena astroblem (seperti meteor), melainkan fenomena katastrofi (malapetaka) geologi berupa aspal dan bitumen yang terbakar serta belerang yang berasal dari letusan gunung garam dan gunung lumpur.

Kota Sodom dan Gomorrah adalah dua kota yang dikaitkan dengan kisah Nabi Luth dan kaumnya. Paling tidak, dalam pandangan Islam, Kristen, Yahudi, diyakini bahwa dua kota ini memang pernah ada, dan kemudian dihancurkan Tuhan akibat begitu besarnya kemaksiatan yang dilakukan oleh penduduknya. Kota inilah yang daripadanya lahir istilah sodomy, and sodomite. Bahkan, dalam bahasa Ibrani, Sodom itu sendiri berarti terbakar, dan Gomorrah berarti terkubur.

Kaitannya dalam Qur’an, ini termaktub dalam “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS Huud ayat 82). Dan dalam Kitab Genesis, disebutkan bahwa “dikarenakan oleh dosa-dosa penduduknya, Sodom, Gomorrah, Admah dan Zeboim dihancurkan oleh sulfur dan api dari Tuhan (19: 24-25).

Pertanyaan yang pertama, adalah dimanakah sesungguhnya lokasi Kota Sodom dan Gomorrah itu. Ternyata sangat sulit untuk menjawabnya, karena bekas atau puing-puing kedua kota ini sulit sekali untuk ditemukan. Misteri keberadaan Sodom dan Gomorrah mengundang banyak arkeologis, geologis, dan paleoclimatologis untuk mengungkapkannya sejak tahun 1923.

Harris dan Beardow dalam ”The destruction of Sodom and Gomorrah: a geotechnical perspective” yang dimuat dalam Quarterly Journal of Engineering Geology and Hydrogeology (1995) memperkirakan bahwa Sodom dan Gomorrah terletak di utara Semenanjung Lisan atau di sisi timur Laut Mati bagian utara. Laut Mati terletak antara Israel dan Jordania.

Pendapat Harris dan Beardow didasarkan pada keterangan Strabo, seorang sejarahwan dan geografer dari Yunani yang hidup dari 64 SM sampai 23 M. Menurut Strabo, selain Sodom dan Gomorrah diperkirakan juga terdapat 11 kota lain yang kemudian populer dengan nama ”the Lost Cities of the Plain”. Kota ini memang ada pada permulaan hingga pertengahan zaman perunggu (Bronze Age). kira-kira 4000 tahun yang lalu, atau sekitar abad ke-23 hingga 21 SM.

Ketika itu, kota-kota ini berada pada daerah yang sangat subur dikarenakan banyaknya sumber air (wadi). Olehnya itu, hasil pertanian sangatlah melimpah dan penduduknya padat. Selain itu, terdapat deposit bitumen (asphalt) yang besar, dan menjadi salah satu sumber pencaharian penduduk. Asphalt dijual ke Mesir Kuno.

Pada saat sekarang, lokasi yang diyakini sebagai Sodom dan Gomorrah telah menjadi tanah tandus dengan tingat salinitas tinggi. Tentang penyebabnya, Nissembaum (1994) dalam ”Sodom, Gomorrah and the other lost Cities in the Plain – A Climatic Perspective” mengatakan bahwa perubahan iklim yang begitu cepat, telah mengubah daerah ini dari yang subur menjadi tandus dan kering.

Perubahan iklim inilah yang juga menyebabkan kehancuran Kerajaan Mesir Kuno dan penyusutan hutan di Israel Utara, bukti paleobotani di Israel Selatan, dan penduduk meninggalkan permukiman di Lembah Jordan dan Selatan Jordan ketika itu.

Lokasi yang diyakini oleh Harris dan Beardow ini juga diteliti oleh Professor Lynne Frostick, seorang geologist dari Hull University Inggirs, dan Jonathan Tubb dari British Museum (dimuat dalam BBC History, J Cecil, updated 2009). Mereka mengadakan penggalian arkeologi tepatnya di Tell es-Sa’diyeh dekat Laut Mati bagian utara.

Diketemukan bekas pabrik minyak zaitun. Hal ini menandakan betapa tingginya peradaban ketika itu. Tubb mengatakatan, bahwa dilihat dari taraf peradabannya, diperkirakan lokasi ini ada pada zaman permulaan Bronze Age, sezaman dengan masa Sodom dan Gomorah.

Lain lagi pada penemuan arkeologi di Numeira, juga dekat Laut Mati. Ditemukan puing-puing kota tua dan peradabannya yang diperkirakan dari zaman perunggu. Kota ini tertimbun lapisan tanah dan tumpukan batu, serta lapisan abu arang yang menandakan ada kebakaran hebat yang pernah terjadi.

Mengapa Sodom dan Gomorah dapat hancur dengan skala yang amat dahsyat. Faktor utamanya menurut Harris dan Beardow (1995) adalah bahwa Sodom dan Gomorah berada sangat dekat pada patahan Laut Mati (left lateral strike-slip fault). Jalur patahan ini merupakan bagian dari Great Rift Valley System.  Menurut Shmuel Marco, geologis Israel, dari bukti geologi, diperkirakan minimal ada enam kali gempa dengan skala paling rendah 6 SR pernah terjadi.

Sebagai bukti, Mike Finnegan, forensik antropologis dari Amerika Serikat, mengatakan bahwa tiga kerangka manusia yang ditemukan di Numeira. Dari posisi tulang patah, diketahui bahwa mereka mati dalam kondisi hancur. Salah satu kemungkinannya adalah mereka mati dijatuhi reruntuhan batu akibat gempa. Dari carbon dating, diketahui umur kerangka itu adalah 2300 SM, atau sezaman dengan zaman perunggu.

Selain itu, dari tinjauan geoteknik, kandungan tanah pada daerah yang diyakni merupakan loose sand, dan clay sehingga ketika gempa terjadi mudah sekali mengalami likuifaksi. Gempa menjadi trigger pada keadaan dimana kandungan air tanah pada tanah tersebut mengalami peningkatan sehingga tanah bersifat seperti lumpur hidup dan tentunya sangat lunak. Akibatnya, tanah tak lagi mendukung bangunan yang ada di atasnya. Bangunan akan tenggelam ke dalam tanah.

Fenomena ini diungkapkan oleh Haigh dan Madabushi (2002) dari Cambridge University dalam ”Dynamic Centrifuge Modelling of the Destruction of Sodom and Gomorrah ”. Dalam eksperimen di laboratorium, mereka mengambil membuat pemodelan mini kota pada zaman perunggu, termasuk lapisan tanahnya sesuai dengan kondisi geologi di sekitar Laut Mati. Hasilnya, ketika model diguncang gempa dengan skala tertentu, likuifaksi memang terjadi, dan bangunan teggelam masuk ke dalam tanah.

Hal inilah yang mungkin menyebabkan mengapa bukti arkeologi Sodom dan Gomorrah sangat sulit ditemukan. Diperkirakan bahwa sekarang kota ini telah berada di bawah dasar Laut Mati. Olehnya itu John Whitaker (1997) merekomendasi untuk diadakannya penyelidikan bawah laut untuk menelusuri puing-puing Sodom dan Gomorrah.

Selain itu, ada faktor lain yang menyebabkan dahsyatnya proses kehancuran Sodom dan Gomorrah. Adanya gempa, juga memungkinkan terjadinya rekahan-rekahan pada deposit asphalt yang memang banyak terdapat di lokasi tersebut. Beberapa ahli termasuk Harris dan Beardow (1995) mengatakan bahwa kandungan gas dengan tekanan tinggi dari dalam rekahan, menyembur dan membakar deposit asphalt. Tekanan tinggi ini akhirnya melontarkan asphalt terbakar itu keluar, termasuk menghujani Sodom dan Gomorrah.

Jadi dapat dibayangkan, begitu besarnya proses kehancuran Sodom dan Gomorrah. Kombinasi antara gempa, likuifaksi, dan hujan asphalt-sulfur yang terbakar, yang meluluhlantakkan kota dan menghancurkan penduduknya sehancur-hancurnya.

Terkecuali, Nabi Luth AS, atas petunjuk Allah SWT mengevakuasi anak-anaknya keluar dari ”the Sin Cities” itu. Subhanallah. Mudah-mudahan ini menjadi petunjuk bagi orang yang beriman.

Hilang…

Malam ini, Ku tuliskan sebuah rasa dalam kasa, mengalir apa adanya tak peduli siapa yang kan membaca,

Hanya segumpal kata dari zat yang tersisa, bahkan raba terasa iba jua,

Lihat mereka, menggeliat dengan nestapa, meliuk dengan sembilah dosa, tapi tetap mereka besar pikirnya,

Dan benar kali ini, baik itu bukan segalanya, pecundang pun juga bisa beralibi seperti ahlinya,

Bukan suci bila tak mau dimaki, cacian tiap hari kau beri, tapi lihat???

Mereka tertawa ha ha ha,…..

Diam

Begitu banyak kesia-siaan dalam pengorbanan melahirkan ketidakadilan, menggurui dengan gaya babu padahal layu dimakan abu,

Pernah merasa bosan dalam pencarian hidup?

Sangat sering untuk dikatakan dalam karya yang tak karuan seperti inilah contoh dari kekeliruan teramat pelan,

Biar hujan kan datang menjemput dengan batasan pandang di ujung senggangan, tapi itulah kenyataan,

Sadarlah orang sekitarmu adalah pecundang terbaik dengan tiap premis  terbaiknya,

Palsu dan  pilu begitu padu, merayakan aksen sedihmu dalam dekade tertentu, bahkan ditipu sedari jahiliyah terdahulu,

Dan apa yang bisa dilakukan? 

Hanya diam bukan? Yups…

DIAM dan  tetap bertahan dalam fase sesaat menepi lalu kembali DIAM,

Menyanggah pelarah jiwa yang terserat dalam diorama falsafah sang pujangga,

Mari kita dengarkan, DIAM bukan hinaan bahkan caci makian yang terlalu pelik di dalam pencarian,